Cara Agar Kurir Mengantar Paket Sampai ke Depan Pintu Rumah Kamu

Tahun lalu, Peraturan Pengelolaan Pasar Jasa Ekspedisi yang baru direvisi resmi berlaku. Salah satu pasalnya, yaitu aturan bahwa “paket tidak boleh dikirim ke loker atau titik pengambilan tanpa persetujuan pengguna”, memicu perdebatan luas.

Tapi regulasi ini sepertinya cuma ada di atas kertas. Banyak konsumen baru sadar paketnya sudah dilempar ke titik pengambilan atau loker setelah menerima kode pengambilan. Kenapa Peraturan ini praktis jadi macan kertas? Kenapa sebagian paket tetap tidak sampai ke depan pintu rumahmu meskipun kamu sudah minta dengan jelas? Banyak konsumen yang belanja online mungkin merasakan kebingungan yang sama.

Pertama, kita harus bertanya: apakah hukum dan regulasi selalu efektif? Logika banyak orang adalah, karena hukum itu ada, semua orang wajib mematuhinya. Ini asumsi paling naif.

Contohnya, kalau kamu lahir antara tahun 1980 dan 2015 dan kamu punya adik, ya sudah — orang tuamu melanggar hukum. Tapi kalau kebetulan kamu adalah si adik itu, lebih parah lagi — keberadaanmu sendiri sudah ilegal. Keberadaanmu melanggar “kebijakan dasar nasional” yang tertulis dalam konstitusi tahun 1982: kebijakan satu anak. Orang tuamu melanggar hukum, mungkin karena mereka percaya ikatan keluarga lebih penting daripada aturan hukum. Keputusan negara mencabut kebijakan satu anak berakar dari krisis ekonomi akibat populasi yang menurun. Jadi begitulah cara kerja hukum: tergantung kondisi nyata di lapangan, sebagian orang mematuhinya sampai titik darah penghabisan, sementara yang lain mengabaikannya sama sekali.

Peraturan Pengelolaan Pasar Jasa Ekspedisi tidak berbeda. Ia menawarkan solusi tapi tidak menyediakan sarana ekonomi untuk menyelesaikan masalahnya. Jadi para kurir di last mile memilih untuk “melanggar hukum” secara massal.

Sebagian besar masalah dalam hidup sebenarnya adalah masalah ekonomi — dan industri ekspedisi adalah contoh utamanya.

Layanan pengiriman berkualitas tinggi sebenarnya bukan hal yang mustahil: pengiriman sampai depan pintu dan pengiriman sehari sampai sama-sama bisa diwujudkan — asalkan kamu bayar lebih! Selama pandemi, ketika impor dan ekspor diawasi ketat, ada seorang pelanggan yang minta saya mengirim sekotak besar wine dari Tiongkok ke Finlandia. Setelah dia membayar biaya pengiriman beberapa ribu yuan, semuanya beres dengan mudah. Kalau brand premium seperti SF Express, JD Logistics, atau Deppon tidak menyediakan layanan sampai depan pintu, kamu berhak protes — lagipula kamu sudah bayar harga premium dan berhak mendapat layanan yang setimpal.

Namun, selain SF Express, JD, dan Deppon, jaringan “Tongda” (STO Express, ZTO Express, YTO Express, Yunda, dan lain-lain) fokus pada bisnis paket kecil. Biaya pengiriman dari pedagang seringkali di bawah 0,5 yuan per kilogram. Untuk barang-barang kecil yang dibeli konsumen sehari-hari, biaya kirim aktualnya biasanya kurang dari 3 yuan. Setelah dipotong biaya di setiap tahap rantai pasok, kurir di last mile cuma dapat beberapa sen per paket.

Kalau kamu merasa wajar seorang kurir makanan dapat lima atau enam yuan per pesanan, maka berharap kurir yang cuma dapat beberapa sen mau mengantar sampai depan pintu rumahmu itu standar ganda. Selama pendapatannya tidak sepadan, sebanyak apa pun kamu mengeluh, kurir tidak akan mau mengantar ke depan pintu — mereka malah akan resign. Demi gaji beberapa ribu yuan sebulan, ngapain ambil risiko? Mendingan antar makanan!

Dulu, ada platform yang memberi subsidi ke perusahaan ekspedisi untuk memaksa kurir mengantar ke depan pintu konsumen. Tapi dalam sebulan, layanan itu praktis lenyap. Meskipun platform memberi subsidi untuk pengiriman sampai depan pintu, kurir di last mile tidak menerima kompensasi yang setimpal untuk kerja ekstranya. Setiap kali menemukan pesanan yang harus diantar sampai depan pintu, mereka menyisihkan paket itu dan memprioritaskan pengiriman massal ke titik pengambilan. Baru setelah urusan titik pengambilan selesai, mereka mengantar paket yang harus sampai depan pintu. Akibatnya, paket yang seharusnya diprioritaskan justru sering datang paling akhir. Sebagian konsumen yang tidak sabar akhirnya mengambil paketnya sendiri, atau langsung menolaknya. Setelah tarik-menarik ini, si kurir mencapai tujuannya — dia memang sejak awal tidak mau mengantar sampai depan pintu. Platform dapat kredit promosinya, perusahaan ekspedisi dapat biaya kirimnya, konsumen tidak bayar lebih, dan satu-satunya yang kalah adalah si pedagang.

Semua pihak — konsumen, platform e-commerce, bahkan negara — ikut bertanggung jawab atas situasi ini. Tiongkok adalah negara di mana 600 juta orang berpenghasilan hanya 1.000 yuan sebulan, dan 900 juta orang berpenghasilan kurang dari 2.000 yuan sebulan. Bagi mayoritas konsumen, mereka lebih memilih menghabiskan 15 menit mengambil paket sendiri daripada membayar tambahan 5 yuan untuk layanan sampai depan pintu.

Tanggung jawab platform terletak pada kenyataan bahwa tidak semua pengguna peduli soal uang receh itu — banyak yang senang membayar demi kenyamanan. Tapi sebagian besar platform atau pedagang tidak akan secara proaktif menawarkan opsi “bayar tambahan untuk SF Express”, karena implikasi psikologis dari opsi itu akan menakuti sebagian calon pembeli. Padahal, pengguna cukup menghubungi pedagang secara pribadi dan membayar tambahan untuk jalur pengiriman premium — pedagang seringkali justru senang melayaninya.

Menitipkan paket di titik pengambilan last mile bukanlah model pengiriman yang mundur — itu adalah penyesuaian alami dari tangan tak terlihat pasar. Kemampuan Tiongkok menjembatani kesenjangan kota-desa dengan biaya sangat rendah banyak bergantung pada ekspedisi yang murah. Ini dibangun di atas dividen demografis yang melimpah: ketika kurir bisa hidup layak dengan mengantar seratus paket sehari, semua kekacauan ini akan hilang dengan sendirinya. Kabar baiknya, transformasi ini sepertinya tidak lama lagi. Kabar buruknya, itu juga berarti berakhirnya dividen demografis.