Tetap Terjaga Saat Membaca
Kehidupan biasa paling mudah menelan pikiran kita.
Setiap hari kamu mengerjakan hal yang hampir sama. Klien minta logonya dibesarkan sedikit, kontennya dibuat lebih menarik, warnanya lebih cerah, layoutnya lebih penuh—persis seperti fantasi sebagian pria sebangsa tentang perempuan: dada lebih besar, baju lebih seksi, bentuk lebih berisi. Lalu kamu mengubahnya sesuai permintaan klien. Hasilnya sama sekali bukan sesuatu yang kamu suka, tapi klien bilang bagus. “Lumayan, nak muda, kerja bagus~” “Siap~” Sambil dalam hati menggerutu “Logo lebih besar! Konten menarik! Warna lebih cerah!” kamu dengan susah payah menyelesaikan beberapa layout lagi. Setelah beberapa bulan mengerjakan pekerjaan serupa, kamu sadar tubuh dan pikiranmu sepenuhnya dikuasai pekerjaan. Sepanjang hari kamu mengerjakan hal yang mirip kerjaan pabrik—nggak perlu mikir. Bodoh itu kekuatan!
Ujung-ujungnya, kamu selalu merasa kelelahan. Setelah pulang kerja dan makan malam, kamu duduk di depan komputer, ikut memikirkan nasib bangsa seperti orang Zhongnanhai, meninjau postingan Weibo hari itu, takut melewatkan satu jejak pun. Kamu buka space teman-teman sekelas dan sahabat untuk melihat kabar mereka hari ini. Padahal kenyataannya, kamu sudah lama tak bertemu mereka, sudah lama tak mendengar suara mereka. Sepertinya kamu sangat peduli pada dunia yang ada dan teman-teman di sekitarmu. Tapi, setelah tanpa tujuan menutup halaman web, kamu tak ingat satu pun hal yang kamu lihat sepuluh detik lalu, satu menit lalu, bahkan sepuluh menit lalu. Perasaan menua sebelum waktunya melintas sekilas, dan seketika bahkan kesadaran akan kesedihan itu pun hilang tanpa jejak. Meski ada penghiburan bahwa orang yang pandai melupakan selalu hidup bahagia, kegelisahan itu tak pernah benar-benar pergi. Kamu mungkin tak tahu kadar dopaminmu, tapi emosimu sendiri selalu jelas.
Jadi kamu tenggelam dalam efek negatif yang dibawa suasana hati yang buruk. Kamu tahu betul kamu tidak bahagia dan tahu apa yang harus dilakukan, tapi kamu tidak langsung melakukannya. Kamu menunggu sampai akhirnya merasa bosan setengah mati, baru kamu merindukan hal-hal yang dulu biasa kamu lakukan, baru kamu mengubah pikiran menjadi tindakan.
Akhirnya aku kembali membuka buku, tenggelam dalam pemikiran penulis, melupakan godaan internet, drama TV, mobil, dan perempuan, merasakan penalaran penulis. Baru setelah menutup buku aku memakai kesadaranku sendiri untuk membuat penilaianku sendiri atas penalaran penulis. Meski aku tak bisa sampai pada kesimpulan tingkat tinggi, merasakan perbedaan antara tulisan bagus dan buruk sungguh memuaskan, karena selama itu aku berpikir, aku merasakan keberadaanku sebagai manusia.