Untuk Hidup
Kalau harus menyebut novelis Tiongkok kontemporer favorit saya, selain Yu Hua, saya tidak bisa menemukan jawaban yang lebih baik. Alasannya, pertama, karena saya jarang membaca novel, jadi wajar kalau karya yang bisa saya bilang suka bahkan lebih sedikit lagi. Kedua, karena saya suka cara Yu Hua memahami sifat manusia dalam karya-karyanya. Walaupun karya Wang Xiaobo lebih menginspirasi dan penuh poin-poin cemerlang di mana-mana, saya merasa kepribadian Wang Xiaobo terlalu berbeda dari saya. Entah dia orang yang suka bicara licik atau bukan—gaya bahasanya selalu terasa sinis, lucu tapi tidak membuat saya suka, meski tetap layak dibaca. Buku adalah jembatan komunikasi spiritual antara penulis dan pembaca. Saya suka karya yang beresonansi dengan jiwa saya sendiri. Keduanya sama-sama memperkuat sikap saya yang tadinya setengah yakin, dan mengoreksi pandangan-pandangan yang keliru. Ada juga beberapa karya yang, meski tidak diterima orang, ide-idenya mungkin sudah melampaui level kita saat ini dan perlu dibaca dengan cermat—seperti semacam ziarah merangkak jarak jauh dan olah batin. Baru setelah bertahun-tahun seseorang akan mencapai istana yang suci dan agung.
Sifat manusia dalam karya Yu Hua adalah sifat manusia paling autentik yang menghadapi kenyataan, sifat manusia paling biasa dan sederhana. Dia tidak menyembunyikan sejarah, juga tidak mengkritik sejarah. Dia hanya menempatkan tokoh-tokoh dalam lingkungan yang besar dan membiarkan mereka tumbuh. Kebanyakan orang, saat menghadapi tekanan, punya sikap pasrah menerima namun enggan merasa kesepian. Pada akhirnya, mereka tetap saja berulang kali tidak mencapai apa-apa. Karakter dan sikap mereka sendiri terkikis halus oleh waktu, memperlihatkan semacam kehangatan yang inklusif—tanpa keputusasaan, tanpa keluhan, seolah melihat menembus segala hal dalam hidup. Inilah sifat manusia dalam karya Yu Hua, dan inilah yang paling berharga. Ngomong-ngomong soal ini, saya jadi teringat novel lain, Dunia Biasa karya Lu Yao, yang juga sangat saya sukai. Sayangnya, saya baru membaca satu karya Lu Yao, dan itu pun waktu SMA, jadi saya tidak berani berkomentar sembarangan.